<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.2.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Antara HitamputiH</title>
	<link>http://kelabu.syahwinda.com</link>
	<description>Tak Semua Gelap, Walau Tak Selalu Terang</description>
	<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 09:51:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>(untitled)</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/06/24/untitled-3/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/06/24/untitled-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jun 2007 09:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/06/24/untitled-3/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Aku udah males hubungan sama kamu lagi,&#8221; ucapnya tanpa beban.
&#8220;Oh, oke,&#8221; aku menjawab datar. Sebetulnya dalam hati aku merasa kecewa, kenapa dia sampai melontarkan kalimat seperti itu.
&#8220;Aku nggak pengen ketemu kamu lagi.&#8221;
&#8220;Oke,&#8221; aku makin kecewa dengan pilihannya.
&#8220;Aku bosan sama kamu.&#8221;
&#8220;Oke,&#8221; aku sudah nggak kuat lagi. Air mataku satu persatu mulai turun.
&#8220;Lah kamu kok oke-oke melulu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Aku udah males hubungan sama kamu lagi,&#8221; ucapnya tanpa beban.<br />
&#8220;Oh, oke,&#8221; aku menjawab datar. Sebetulnya dalam hati aku merasa kecewa, kenapa dia sampai melontarkan kalimat seperti itu.<br />
&#8220;Aku nggak pengen ketemu kamu lagi.&#8221;<br />
&#8220;Oke,&#8221; aku makin kecewa dengan pilihannya.<br />
&#8220;Aku bosan sama kamu.&#8221;<br />
&#8220;Oke,&#8221; aku sudah nggak kuat lagi. Air mataku satu persatu mulai turun.<br />
&#8220;Lah kamu kok oke-oke melulu? Itulah yang bikin aku bosan. Kamu terlalu menerima semua apa yang aku bilang.&#8221;<br />
Aku diam. Terisak.<br />
&#8220;Kamu mau ayamnya, tapi nggak mau nangkep. Cuma mau kalo udah di tangan. Mana bisa begitu? Mana usahamu?&#8221;<br />
Masih diam, nafasku mulai satu-satu.<br />
&#8220;Sudahlah, kita akhiri aja semua ini, dan jangan pernah hubungi aku lagi. Bye.&#8221;<br />
Telepon ditutup dan isakanku semakin bertambah cepat.</em></p>
<p><em>Aku masih nggak habis pikir dengan keputusannya yang tiba-tiba. Padahal aku mencintainya tulus. Padahal aku menjadi penurut supaya dia tahu bahwa aku akan terus mendukungnya. Aku hanya ingin dia melakukan apa yang dia mau. Dan kalau keadaan sudah seperti ini, berarti keadaan ini memang sudah menjadi maunya kan? Dan aku juga harus tetap mendukungnya kan? Meski hatiku terasa teriris, aku harus tetap ada di belakangnya untuk mendukungnya. Aku ingin selalu ada untuknya, walau dia tak menginginkan itu.</em></p>
<p><em>Dia adalah cinta matiku. Kalau dia sudah tak ada perasaan lagi padaku, maka mati jugalah perasaanku. Aku sudah tak percaya lagi pada cinta. Hubungan yang aku jalani nantinya, pastilah bukan atas dasar cinta, tetapi karena ada </em>internal, individual importance<em>.<br />
Terus aku menangis dalam keremangan malam ini. Setelah percakapan itu, aku merasa tak berdaya. Aku merasa tak ada gunanya lagi aku hidup.</em></p>
<p><em>Sebuah tangan lalu terulur di hadapanku. Mengajakku melupakan kesedihan yang mendalam. Meski sulit, tak pernah terhenti niatnya untuk membuatku tertawa kembali dan menikmati hidup ini. Aku salut atas usahanya. Gadis itu lalu memelukku, dan berkata, &#8220;Sudahlah. Tenang, sayang. Kau tahu aku akan selalu ada untukmu. Kenapa kau masih saja mengingatnya, sedangkan kau tidak tahu pasti, apa dia sedang memikirkanmu atau tidak.&#8221; Pelukannya makin erat. &#8220;Aku akan selalu ada untukmu,&#8221; imbuhnya, masih memelukku erat.</em></p>
<p>Aku terbangun. Semua hanya mimpi.<br />
Aku tak tahu, seharusnya aku bersyukur atau malah sedih dengan mimpiku barusan. Aku hanya tahu pasti, bahwa meskipun jauh, keyakinan kita akan hadirnya seorang sahabat akan mengalahkan apapun di dunia ini. Seorang kekasih hati sekali pun.</p>
<blockquote><p><strong><em>(The story was made in dedication to my very very best friend ever, Citra Desy Rosaline, Italy. Thank you for the love, happiness, sadness you have shared with me.)</em></strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/06/24/untitled-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Wanita Simpanan (a.k.a Istri Kedua)</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/05/14/cerita-wanita-simpanan-aka-istri-kedua/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/05/14/cerita-wanita-simpanan-aka-istri-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2007 23:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/05/14/cerita-wanita-simpanan-aka-istri-kedua/</guid>
		<description><![CDATA[Dia menarik tubuhku kasar, merapatkan tubuhnya dengan tubuhku.
Dia memelukku, erat. Kepalaku bersandar lemas di bahunya. Tapi tanganku balasa memeluknya erat-erat, seolah tak ingin kehilangan dirinya.
Aku menangis.
Pelan dia melepas pelukan,
menghapus air mataku,
menyusuri inci demi inci wajahku,
memandang mataku dalam-dalam,
lalu mencium bibirku penuh nafsu.
Lama.
Setelahnya dia bergantian menciumi kening,
pipi,
hidung,
dan leherku.
Air mataku mengalir makin deras.
Dia memelukku sekali lagi, lembut,
sebelum akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia menarik tubuhku kasar, merapatkan tubuhnya dengan tubuhku.<br />
Dia memelukku, erat. Kepalaku bersandar lemas di bahunya. Tapi tanganku balasa memeluknya erat-erat, seolah tak ingin kehilangan dirinya.</p>
<p>Aku menangis.</p>
<p>Pelan dia melepas pelukan,<br />
menghapus air mataku,<br />
menyusuri inci demi inci wajahku,<br />
memandang mataku dalam-dalam,<br />
lalu mencium bibirku penuh nafsu.<br />
Lama.</p>
<p>Setelahnya dia bergantian menciumi kening,<br />
pipi,<br />
hidung,<br />
dan leherku.</p>
<p>Air mataku mengalir makin deras.</p>
<p>Dia memelukku sekali lagi, lembut,<br />
sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang.</p>
<p>Kucium punggung telapak tangannya,<br />
menunduk sambil terus pipiku dilelehi air mataku.<br />
Terus aku menunduk,</p>
<p>hingga ia meninggalkanku.</p>
<p>Kembali ke istrinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/05/14/cerita-wanita-simpanan-aka-istri-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Seseorang Yang Pernah Singgah di Hatiku</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/29/tentang-seseorang-yang-pernah-singgah-di-hatiku/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/29/tentang-seseorang-yang-pernah-singgah-di-hatiku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2007 14:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/29/tentang-seseorang-yang-pernah-singgah-di-hatiku/</guid>
		<description><![CDATA[Dia bukanlah bagian dari hidupku, tidak pernah walau sedetikpun. Mengenalnya pun tidak. Dia hanyalah seseorang yang selalu duduk di tempat duduk yang sama, gerbong yang sama, kereta yang sama. Kereta yang selalu kunaiki setiap pagi bila akan berangkat ke kantor.Sebelumnya aku tak pernah menyadari dia ada, hingga aku bertatap pandang dengannya dan senyumnya yang menawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia bukanlah bagian dari hidupku, tidak pernah walau sedetikpun. Mengenalnya pun tidak. Dia hanyalah seseorang yang selalu duduk di tempat duduk yang sama, gerbong yang sama, kereta yang sama. Kereta yang selalu kunaiki setiap pagi bila akan berangkat ke kantor.Sebelumnya aku tak pernah menyadari dia ada, hingga aku bertatap pandang dengannya dan senyumnya yang menawan tersungging di bibirnya. Hari-hari berikutnya aku semakin sering melihatnya. Dia selalu membawa buku sketsa dan pensil yang sama, yang kian hari kian memendek. Dia selalu terlihat asyik melukis, sambil sesekali membubuhkan remah roti diatas buku sketsanya, dan sesekali melihat sekeliling.Wajahnya selalu pucat, tapi tertutupi oleh ketampanannya. Sudah lima minggu aku selalu memperhatikannya, melihatnya melukis. Aku ingin mengenalnya, tapi tertahan oleh kodrat wanita yang hanya menunggu. Sedangkan dia juga hanya mencuri pandang, dan bila tiba-tiba kami saling bertatapan, kami tersenyum.Yang membuatku terkejut adalah sikapnya kemarin. Tak kusangka-sangka dia berjalan ke arahku. Tapi kereta sudah berhenti di stasiun di dekat kantorku. Aku cepat-cepat turun. Dia berusaha mengejarku, tapi stasiun terlalu ramai.</p>
<p>Pagi ini aku bangun agak siang. Aku memaki diriku sendiri. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya kalau aku tidak bisa menghargai waktu? Dugaanku benar, dia tidak ada di tempat biasanya dia duduk. Dia pasti naik kereta yang sebelumnya. Hari itu aku tidak bersemangat bekerja.</p>
<p>* * *</p>
<p>Sudah dua minggu aku tidak melihatnya lagi duduk di tempat yang biasanya. Padahal sejak hari aku bangun kesiangan itu, aku selalu berangkat ke stasiun lebih pagi. Mungkin dia tidak menyukai orang yang tidak menghargai waktu, sehingga dia tidak mau menemuiku lagi.</p>
<p>Seperti pagi ini, aku tidak melihatnya duduk di kursinya. Aku berjalan pelan ke kursinya, dan duduk disitu. Belum lama aku duduk, seseorang memegang bahuku. Aku kaget, spontan aku berdiri dan menghadap ke orang yang memegang bahuku. Belum sempat kukeluarkan satu hurufpun, ketika lelaki itu bicara dengan lembut dan sopan.</p>
<p>â€œNon, Tuan yang biasa duduk di tempat duduk ini, meinitipkan amplop ini untuk Nona. Mari ikut saya.â€ Seperti tersihir, aku menurut saja tanpa bertanya lagi. Aku keluar kereta itu, mengikuti lelaki tadi. Dia membuka pintu sebuah mobil mewah dan mempersilakan aku masuk. â€œSaya akan antar Nona sampai tempat kerja.â€</p>
<p>â€œTuan meminta Nona membuka amplop itu sesampai Nona tiba di tempat kerja.â€ Selama perjalanan aku hanya diam. Setelah aku turun, lelaki itu berkata lagi, â€œSilakan dibuka. Akan saya tunggu hingga Nona selesai membacanya. Itu pesan Tuan.â€ Lalu aku membacanya.</p>
<p>Selamat pagi, bidadariku. Maafkan aku, aku takkan bisa lagi melihat wajahmu yang cantik itu, senyummu yang menarik itu, dan matamu yang berbinar itu. Aku takkan bisa menemuimu, lagi, sampai kapanpun. Fisikku yang lemah dan penyakitku yang kian hari kian menggerogoti tubuhku, membuat dokter memvonisku tidak boleh terlalu capai. Bersama surat ini, kuberikan dua buah lukisan hasil karyaku. Yang berlatar awan adalah bidadari yang kulihat di mimpiku, dan yang berlatar jendela gerbong itu kau. Mirip ya? Aku ingin bisa memilikimu, tapi ternyata aku tak bisa. Aku hanya bisa memandangmu, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku harus istirahat total di rumah, karena kondisiku yang makin parah. Maafkan aku, bidadariku. Maafkan aku bila aku selalu memperhatikanmu di kereta walau tak kausadari, bila aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan bila mencintaimu begitu dalam, sedangkan aku tak mampu lagi walau hanya memandangmu. Terima kasih atas segala yang kau lakukan pada hidupku. Kau telah mengubah segala yang ada di diriku. Aku mencintaimu. Salam, -Bima-</p>
<p>Setelah kubaca, kupandang lelaki setengah baya di hadapanku. Dan tanpa aku bertanya dia berkata, â€œTuan berpesan agar amplop ini diserahkan setelah Tuan berpulang. Tuan telah berpulang pagi ini, pukul lima lewat dua puluh menit. Akan dimakamkan nanti pukul sepuluh. Bila Nona berkenan, Tuan ingin Nona untuk tidak masuk kerja hari ini dan melayat ke rumah duka.â€ Dadaku seperti tertimpa beban beribu-ribu ton.</p>
<p>Kudekap surat itu, kupanjatkan doa untuknya. Air mataku menitik, dan aku berbisik lirih, â€œAku juga mencintaimu.â€ Lalu aku masuk mobil itu lagi. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/29/tentang-seseorang-yang-pernah-singgah-di-hatiku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Keluar</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/jalan-keluar/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/jalan-keluar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 01:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/jalan-keluar/</guid>
		<description><![CDATA[â€œJalan keluar selalu ada. Tugasmu adalah menemukan solusi, bagaimana pun mustahil tampaknya, karena putus asa juga tak berguna. Saat logika tak bekerja, cari jawabannya pada sesuatu yang tak logis. Saat otak tak bisa memberi jawaban, carilah ke dalam jiwamu. Gunakan imajinasi dalam mengatasi masalah. Matikan pikiran dan bebaskan jiwamu.â€
Lewis Perdueâ€™s Daughter of God, pp. 220-221
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€œJalan keluar selalu ada. Tugasmu adalah menemukan solusi, bagaimana pun mustahil tampaknya, karena putus asa juga tak berguna. Saat logika tak bekerja, cari jawabannya pada sesuatu yang tak logis. Saat otak tak bisa memberi jawaban, carilah ke dalam jiwamu. Gunakan imajinasi dalam mengatasi masalah. Matikan pikiran dan bebaskan jiwamu.â€</p>
<blockquote><p>Lewis Perdueâ€™s Daughter of God, pp. 220-221</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/jalan-keluar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/harapan/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 01:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kutipan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/harapan/</guid>
		<description><![CDATA[â€œBerhati-hatilah dengan harapan, karena harapan sering sekali tak bisa jadi kenyataanâ€¦â€
Dewie Sekarâ€™s Zona @last, pp. 41
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>â€œBerhati-hatilah dengan harapan, karena harapan sering sekali tak bisa jadi kenyataanâ€¦â€</p>
<p>Dewie Sekarâ€™s Zona @last, pp. 41</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/harapan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;&#8230;&#8221; (kata Coklat Leleh kepada Mesin Pencetak)</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/kata-coklat-leleh-kepada-mesin-pencetak/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/kata-coklat-leleh-kepada-mesin-pencetak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 01:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/kata-coklat-leleh-kepada-mesin-pencetak/</guid>
		<description><![CDATA[Hai, aku Coklat Leleh. Kamu tau kan? Itu loh, yang ada di dalam dirimu waktu kamu lagi kerja. Udah inget?
Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau aku udah bikin kamu ngadat lagi. Apa sih yang keselip diantara gerigimu? Bagianku yang belum sepenuhnya meleleh yah? Well, apa pun itu, yang aku pengen kamu tau, aku ngga bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hai, aku Coklat Leleh. Kamu tau kan? Itu loh, yang ada di dalam dirimu waktu kamu lagi kerja. Udah inget?</p>
<p>Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau aku udah bikin kamu ngadat lagi. Apa sih yang keselip diantara gerigimu? Bagianku yang belum sepenuhnya meleleh yah? Well, apa pun itu, yang aku pengen kamu tau, aku ngga bisa lama-lama ada di udara kebuka. Aku mesti cepet diolah ke bentuk lain supaya aku ngga menggumpal lagi. Aku ini kan emang sudah diciptain dari sononya untuk jadi pihak yang pasif.</p>
<p>Kamu merhatiin ngga sih?<br />
Masuk pabriknya SilverQueen, aku dicetak jadi pipih. Meski barusan ini ada Chunky-Bar yang sedikit lebih tebal.<br />
Masuk pabriknya Chic Choc, aku jadi bundar dengan biskuit di tengah-tengah.<br />
Masuk pabriknya Cha-Cha, aku jadi bulat pipih warna-warni dengan kacang di dalamnya.<br />
Masuk pabriknya Fererro Roche, aku jadi bintil-bintil karena ada campuran serpihan kacang. Ngga cuma itu, di dalamnya ada biskuit dan sebiji gede kacang Pistachio.<br />
Masuk pabriknya Toblerone, aku bisa jadi segitiga cantik yang ditaburi serpihan madu dan cashew-nut.<br />
Masuk pabriknya M &amp; M&#8217;s, whua! Aku jadi warna-warni lagi. Ada dua bentuk lagi! Satu bulat pipih, satu lagi bulat dengan kacang di dalamnya.<br />
Dan kamu tau? Aku paling seneng masuk pabriknya Ritter Sport! Iya, disini!</p>
<p>Pertama, aku bisa jadi ketemu kamu.<br />
Kedua, isinya lengkap banget, ngga kaya yang lain yang paling banyak cuma ada dua varian rasa. Tapi kalau kamu ngadat gini, aku jadi sedih.</p>
<p>Jadi begini, kita bisa bikin manusia-manusia itu bahagia dan berarti kalau produksinya lancar dan ngga ada yang cacat.<br />
Kalau kamu ngadat, produksinya jadi ngga lancar kan? Apa lagi yang bikin kamu ngadat? Masalah yang sama? Kalau setau kamu itu memang tabiat, kelakuan, dan nasibku, terima aja lahh..</p>
<p>Aku pengen kamu inget, kalau aku ngga akan jadi indah tanpa kamu. Dan kamu ngga akan kepake kalau aku ngga ada di dirimu. Kita ini saling membutuhkan satu sama lain, kita musti bisa kerjasama, mungkin sampe waktu yang ngga bisa ditentukan. Kalau kerjaanmu ngadat melulu, awas loh lama-lama kamu bisa meledak. Kita musti hidup sampe batas usia kita, kamu udah mulai berkarat dan aku udah hampir kadaluarsa. Gimana? Kita bisa coba ini kan?<br />
Sekali lagi, aku minta maaf kalau aku gampang menggumpal sehingga kamu jadi cepet ngadat. Gimana pun, kamu adalah tempat hidupku bergantung kok.</p>
<p>Dan aku janji, aku ngga akan jatuh cinta sama mesin lain selain kamu! Catet itu baik-baik!</p>
<p><em><strong>Dipublikasikan pertama kali di <a href="http://www.syahwinda.com/2007/02/14/kata-coklat-leleh-kepada-mesin-pencetak/" target="_blank">http://www.syahwinda.com</a></strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/kata-coklat-leleh-kepada-mesin-pencetak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bulan dan Bintang (Dalam Sebuah Bilik di Wartel Nan Gelap)</title>
		<link>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/bulan-dan-bintang-dalam-sebuah-bilik-di-wartel-nan-gelap/</link>
		<comments>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/bulan-dan-bintang-dalam-sebuah-bilik-di-wartel-nan-gelap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 23:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kelabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/bulan-dan-bintang-dalam-sebuah-bilik-di-wartel-nan-gelap/</guid>
		<description><![CDATA[Bintang : Kamu sekarang pakai baju apa?
Bulan : Kaos oblong warna biru tua.
Bintang : Bawahannya?
Bulan : Celana selutut warna ungu.
Bintang : Dalamannya?
Bulan : Kenapa pertanyaanmu harus diteruskan sampai sedetil itu?
Bintang : Karena sebenarnya aku ingin bercinta denganmu saat ini.
Bulan : Dari dulu jawabanmu selalu itu. Jadi sebenarnya, kamu ingin mengenalku karena ingin berteman denganku, atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bintang : Kamu sekarang pakai baju apa?</strong><br />
<em>Bulan : Kaos oblong warna biru tua.</em><br />
<strong>Bintang : Bawahannya?</strong><br />
<em>Bulan : Celana selutut warna ungu.</em><br />
<strong>Bintang : Dalamannya?</strong><br />
<em>Bulan : Kenapa pertanyaanmu harus diteruskan sampai sedetil itu?</em><br />
<strong>Bintang : Karena sebenarnya aku ingin bercinta denganmu saat ini.</strong><br />
<em>Bulan : Dari dulu jawabanmu selalu itu. Jadi sebenarnya, kamu ingin mengenalku karena ingin berteman denganku, atau bercinta denganku?</em><br />
<strong>Bintang : Awalnya hanya berteman, tapi entah kenapa makin lama aku makin menginginkanmu.</strong><br />
<em>Bulan : Itu <st1:place w:st="on"><st1:state w:st="on">kan</st1:state></st1:place> hanya alasanmu. Ah, sudahlah. Terserah. Jawabanmu aku terima. Lagian, kamu, toh setelah sampai di telingaku, aku tetap tak tahu kamu bohong atau jujur.</em><br />
<strong>Bintang : Tapi aku tidak bohong!</strong><br />
<em>Bulan : Ya sudah. <st1:place w:st="on"><st1:state w:st="on">Kan</st1:state></st1:place> sudah aku terima ucapanmu.</em><br />
<strong>Bintang : Jadi? Ayolah, bantu aku masturbasi sekarang.</strong><br />
<em>Bulan : Tidak.</em><br />
<strong>Bintang : Uhhâ€¦ Ayolah. Punyaku sudah tegang sekali ini. Rasanya ingin masuk ke punyamu.</strong><br />
<em>Bulan : Kamu tahu arti kata â€˜tidakâ€™ tidak sih?</em><br />
<strong>Bintang : Uhhâ€¦ Uhhâ€¦ Sayyanghh, ahyyo bbanttu akkhuhâ€¦</strong><br />
<em>Bulan : Coba katakan padaku, sebenarnya kamu bisa Bahasa Indonesia tidak sih? Aku harus menjelaskan kalau aku tidak mau pakai bahasa apa?</em><br />
<strong>Bintang : Bbissha. Arrggghhhh â€¦ Tapi aku ingin melahapmu sampai habis saat ini. Kalau kau ada di dekatku, akan kubuat kau keenakan dan memintaBulanminta lagi padaku.</strong><br />
<em>Bulan : Kalau kau masih saja meneruskan bahasan tentang ini, sebaiknya kamu tutup saja telponnya. Aku mau tidur.</em></p>
<p>(terdiam)</p>
<p><strong>Bintang : Bener, kamu sayang aku?</strong><br />
<em>Bulan : Kenapa sih, kamu selalu mempermasalahkan itu? Ngomong-ngomong, sudah masturbasi, ya?</em><br />
<strong>Bintang : Sudah. Karena aku takut tidak diingini. Karena aku sudah terlalu banyak disakiti, dan sekarang aku mencari seseorang yang menyayangiku, menginginiku seutuhnya.</strong></p>
<p>(terdiam)</p>
<p><em>Bulan : Aku sayang kamu. Aku juga menginginimu. Tapi tidak untuk saat ini.</em><br />
<strong>Bintang : Kenapa? Apa lagi kekuranganku? Aku sudah kerja. Aku sudah punya rumah. Aku juga sudah punya kendaraan sendiri.</strong><br />
<em>Bulan : <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">Ada</st1:city></st1:place>. Manusia tak ada yang sempurna, sayang. Begitu pun kamu.</em><br />
<strong>Bintang : Apa kekuranganku? Sebutkan, aku sudah tidak sabar.</strong><br />
<em>Bulan : Satu, kamu tidak punya <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">surat</st1:city></st1:place> nikah yang bertuliskan namamu dan namaku. Yang entah kenapa aku percaya kamu tak mampu memberikannya padaku.</em><br />
<strong>Bintang : Kok bisa?</strong><br />
<em>Bulan : Kenapa? Ini kekuranganmu yang kedua, agama kita berbada, kepercayaan yang kita anut tidak sama.</em><br />
<strong>Bintang : Lalu kenapa?</strong><br />
<em>Bulan : Ketiga, aku tahu kamu tidak akan pindah agama.</em><br />
<strong>Bintang : Tidak seharusnya kita bicara mengenai ini.</strong><br />
<em>Bulan : Maaf, tapi bagiku ini yang terpenting. Dan kalau toh, kamu mau pindah agama, aku tidak ingin kamu hanya sekedar pindah. Tapi juga menjalani itu semua dengan kerelaan dan kesungguhan. Dan jika seseorang meremehkan apa yang penting bagi pasangannya, yakinlah bahwa pasangan orang itu bukan aku. Karena aku takkan mau apa yang penting bagiku diremehkan pasanganku. Jika kehadiranku memang penting bagi hidupnya, maka segala yang penting bagiku akan penting juga baginya.</em><br />
<strong>Bintang : Yah, kita lihat nanti sajalah. Sekarang kita jalani hubungan kita apa adanya saja.</strong><br />
<em>Bulan : Kita lihat nanti sajalah. Sudah dulu, ya? Aku mau tidur.</em></p>
<p>(telpon ditutup)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelabu.syahwinda.com/2007/04/28/bulan-dan-bintang-dalam-sebuah-bilik-di-wartel-nan-gelap/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
