Cerita Wanita Simpanan (a.k.a Istri Kedua)
Ξ 14 May 2007 | → | ∇ Cerita |
Dia menarik tubuhku kasar, merapatkan tubuhnya dengan tubuhku.
Dia memelukku, erat. Kepalaku bersandar lemas di bahunya. Tapi tanganku balasa memeluknya erat-erat, seolah tak ingin kehilangan dirinya.
Aku menangis.
Pelan dia melepas pelukan,
menghapus air mataku,
menyusuri inci demi inci wajahku,
memandang mataku dalam-dalam,
lalu mencium bibirku penuh nafsu.
Lama.
Setelahnya dia bergantian menciumi kening,
pipi,
hidung,
dan leherku.
Air mataku mengalir makin deras.
Dia memelukku sekali lagi, lembut,
sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Kucium punggung telapak tangannya,
menunduk sambil terus pipiku dilelehi air mataku.
Terus aku menunduk,
hingga ia meninggalkanku.
Kembali ke istrinya.
on May 15th, 2007 at 11:47 pm
ini mah napsuan namanya!!
on May 22nd, 2007 at 7:55 am
Begitu sedih aku membaca kisah wanita simpanan, yang semuanya terbas bungkus kenikmatan. rasionalitas,logika hancur oleh ketamakan “kenikmatan”. tapi hidup ini memang bukan milik kita. entah tuhan entah setan.
on May 22nd, 2007 at 1:11 pm
nasib..nasib.
sabar ya Mbak Sim..
moga2 mnemukan jln yg bnar..
jgn mnjadi pihak yg akan mrugikan org lain..
kasian istri yg asli..
nunggu dirumah..
masak buat suami dan anak..
bersihin rumah..
berdoa stiap sholat untuk suaminya..
tp diluar ada yg menggantikan posisinya..

awas klo Saya smpe liat perceraian Mereka di Infotainment..
on May 27th, 2007 at 6:03 am
Mana nih tulisan-tulisan barunya?
on July 7th, 2007 at 12:43 pm
tidak semua wanita simpanan bercitra buruk,bisa jadi seorang suami mempunyai istri simpanan karna kurang perhatian dari yang di rumah. lagi pula mana ada yang mau jadi istri simpanan kalau bukan karna takdir. sebagai manusia jangan suka mengejek atau mengucilkan mereka yang jadi istri simpanan atau istri kedua kasihan mereka. bagaimana kalau posisi kita seperti mereka ? pasti g mau juga kan? inilah takdir…
on July 7th, 2007 at 9:08 pm
itu adalah pilihan hidup seseaorang bagaimana pun ia telah menentukan jalannya sendiru termasuk resiko susah senang yang akan dihadapi atas pilian hidupnya……
on September 19th, 2007 at 5:26 pm
not bad.
semua orang berhak punya pilihan, dan ketika pilihan jatuh pada orang yang sudah punya status, mungkin keduanya akan bilang ” andai kita bertemu lebih awal ”
mungkin saja istri pertama dibohongin, tapi pernah ngebayangin gak posisi wanita simpanan yang harus nutupin perasaannya ketika suami berada disisi istri yang sah.
Dan aku sendiripun, gak punya hak u/ nge judge posisi anda salah atau bener.
on October 20th, 2007 at 9:32 pm
ya betul semua org berhak menentukan jln hidupny sendiri2,mskpun itu di mata orla sgt buruk tp kita ndk tau klu itu adalah jalan yg terbaik bagi yg bersangkutan atau bagi yg mengalaminya dan harus mengalaminya
on December 15th, 2007 at 12:19 am
tidak semua wanita simpanan buruk,kebnyakn dr suamikdg sangat2 menderita dgn keadaannya yg di rumah..suami dan wanita ke dua saling bs mengerti bahu membahu,susah senang di jalani bersama,tp begitu suami berada dlm wanita yg sah..dia begitu diperas tenaga ya kerja di luar kerja di rumah ..sementara wanita yg di rumah hanya sbg NYONYA BESAR…tanpa menyadari kesulitan dan beban yg di tanggung si suami sungguh malang snasib suami …ITU NYATA TERJADI
on December 24th, 2007 at 8:09 pm
Yup, itu semua benar. Suami selalu diposisikan untuk mencari uang, seolah-olah mereka di-romusha tanpa diberikan balasan yang setimpal. Istri di rumah tidak pernah mau tahu proses yang dialami suaminya, Pokoknya asal ada uang abang sayang. Tetapi mengapa ketika suami mencari perhatian di luar sana selalu disalahkan. Mereka (para istri) selalu mengatakan bahwa suaminya tukang main perempuan padahal mereka (para suami) hanya butuh perhatian atas apa yang telah mereka kerjakan. Dan mengapa kok seolah-olah istri pertama itu adalah yang terbaik diantara wanita-wanita lainnya, tanpa berintrospeksi diri bahwa mereka juga turut andil dalam kesalahan itu. Yah, jika kita sebagai istri pertama janganlah kita egois, kita juga harus menelaah apa yang menyebabkan suami kita mengambil tindakan itu. Bukan dengan emosi semata. Ini semua pilihan hidup tapi yang paling penting lagi jangan buang umur kita dengan memikirkan yang seperti itu, berbuatlah karya sebaik mungkin agar diri kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Amiin.
on June 20th, 2008 at 12:21 pm
Makasih Nufaisa, anda mewakili pendapat saya. Karena jujur, saya ada diposisi itu. Kenapa? saya sendiri tidak pernah tahu, kenapa ini terjadi. Hanya kuasa Tuhan, kita gak pernah tahu apa yang Dia gariskan untk hidup kita. Begitu besar rasa hormat saya terhadap wanita yang mjd istri syah, siapa yang ingin mjd diposisisi saya, tentunya takkan ada, sama seperti saya, sejujurnya saya pun tidak menginginkannya, tapi semua itu seiring waktu dan semuanya kita kembalikan lagi kepada yang Kuasa. Amien.
on June 21st, 2008 at 5:45 pm
yahhh…kasian ya seandainya dunia ini adil ga semestinya ada yg ngalami hal aepertimu,tp gmana lg mnurutku hidup itu pilihan km jg berhak memilih yg terbaik utk mu,tp saranku hidup dijalan yg benar aja ok!
on June 24th, 2008 at 4:14 pm
yaaahh…itu lah hidup,,kadang kita hanya bisa berharap kita selalu ada di jalan yang baik,,tapi apa dikata,,harapan manusia di dunia yang berhak menentukan adalah tuhan,,penguasa di atas segalanya..
jujur,,saya juga berada diposisi yang sama dg sdri nhytha..
saya tidak pernah menyesali pertemuan saya dengan suami sy skrg,,walaupun dia sudah berstatus,,
semua itu adalah jalan dari yang maha kuasa,,yang harus saya jalani dengan sabar dan ikhlas..
saya tidak berhenti ber doa agar tuhan memberikan
kesabaran dan ketabahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari..
karna tidak mudah menghadapi keaadaan yg seperti ini..
untuk anda2 yg selalu berpikiran bahwa menjadi istri simpanan itu semua terbungkus dalam kenikmatan dunia,harta benda..dll
klo pun manusia bisa menolak takdir,,mungkin saya juga tidak akan menerima apa yg sudah di gariskan..
on June 29th, 2008 at 1:20 pm
orang lain yang tidak tau, akan selalu mencaci wanita simpanan,mungkin saya juga akan melakukannya, mungkin wanita simpanan terlihat hidup nyaman, mewah, tiap hari jalan ke mall,mungkin tidak terlalu masalah jika wanita simpanan itu tidak benar-benar mencintai suami orang itu, lalu bagaimana jika wanita simpanan itu benar-banar mencintainya? melihat pasangan duduk bermesraan di gedung bioskop, melihat keluarga dengan anak kecil yang tertawa riang, memang dia bisa beli segalanya, apakah hatinya bisa dibeli? mungkin sudah takdirnya wanita simpanan harus seperti itu, hidup untuk siapa…
on July 25th, 2008 at 12:46 am
bohong
on July 29th, 2008 at 10:16 am
Tak semua istri simpanan hanya mau hartany aj,spt sy yg betul2 mencintai dan takut kehilangan suami.biarlah maut yg memisahkan kmi.
on October 22nd, 2008 at 8:25 pm
Sesungguhnya fungsi istri simpnan tidaklah selalu jelek, buktinya saya sendiri merasa lebih punya harga diri dan lebih menjadi seorang suami bila lagi bersama simpananku, cuma aku kasihan padanya juga kadang dia pengen diakui secara terbuka, bahkan sampai karena cintanya begitu besar padaku dia tidak ingin aku dihina oleh istri 1 ku, bila dia tau aku dilecehkan sebagi suami oleh yang sah pernah dia anjurkan aku ceraikan saja bukan semata karena pengen merebutku darinya, tapi tidak rela suaminya dihina org lain.
on November 29th, 2008 at 4:46 pm
Orang memang hanya bisa menilai..
manusia memang punya pilihan masing2
Tapi saya yang berperan sebagai seorang istri yang tidak dipoligami dan mudah2an sampai ahirhayat tidak akan dipoligami hanya ingin berpendapat siapapun tidak akan rela menyerahkan suaminya direbut oleh orang lain secara terang2n maupun sembunyi2
coba kalau kita pikir dengan kesadaran hati yang jernih bahwa kebahagiaan yang kita rasakan sekarang baik ekonomi maupun rumah tangga(lahirnya buah hati) adalah berkat perjuangan bersama istri pertama yang selalu ada saat susah maupun senang, ketika secara ekonomi sudah merdeka suami mencari kepuaasan diluaratau para penganut hukum GOSSEN II
coba tancapkan titik keadilannya dimana
bagi saya adalah JAS MERAH jangan pernah melupakan sejarah
on December 14th, 2008 at 3:03 pm
Saya menjadi istri kedua dari seorang perwira menengah polisi. Kami menikah di bawah tangan Maret 2008. Kami saling mencintai dan rasa itu tumbuh secara naluriah. Tidak pernah saya berpikir untuk menjadi wanita kedua dalam kehidupan seorang pria beristri…tetapi kadang, kita harus menjalani hidup yg bukan pilihan kita. Suatu hal prinsip mjd alasan saya menerima dia. Kebersamaan kami dalam ruang dan waktu yg terbatas kadang terasa menyakitkan, tetapi rasa kasih yang sangat besar membuat kami selalu merasakan kebahagiaan. Meski ada pertikaian kecil, tapi setiap saat kita bisa saling mengungkapkan betapa besarnya rasa cinta kami…Ketika bertemu ataupun melalui telepon kami selalu bisa bicarakan tentang banyak hal dan selalu kami bisa tertawa bahagia. Ketika saya mengunjunginya, kami tinggal di hotel dan kami lebih sering makan nasi bungkus. Tetapi dalam kebersamaan yg terbatas itu, kami mensyukurinya. Kami bisa tiba2 saling memeluk, mencium atau sekedar mengelus sbg ungkapan rasa kasih, padahal usia kami tidak lah muda lagi. Ada hal2 yg tidak dia dapatkan dari istri pertama (yg hanya akan mjd rahasia kami) dan saya tau dia mendapatkannya sbg kebahagiaan yg dia dapatkan dari saya… Menjadi istri simpanan, wanita kedua atau apapun istilahnya..selalu dianggap sbg wanita yg tidak baik… tetapi apakah mereka yg mjd istri pertama berarti jauh lebih baik dari wanita2 dgn posisi spt saya? Saya menjalani profesi di bidang hukum & suami seorang pejabat kepolisian.. tetapi Alhamdulillah, ketika menikah saya mendapatkan mas kawin 5 juta rupiah…bukan mobil, rumah ataupun perhiasan… Dia support profesi saya, yg kami sepakati sbg modal saya di kemudian hari agar secara materi saya tdk bergantung pd dia… Saya melakukan aktifitas rumah dan kantor di rumah kontrakkan, dan fasilitas motor yg dicicil… Kadang saya pake angkutan kota atau bis…. Saya tdk pernah mau tau apa2 yg dia miliki dgn istri pertama sewaktu dia mjd kapolres, krn saya takut jika saya tau apa2 yg mereka punya, saya akan mjd lebih banyak menuntut… Saya mensyukuri semua kebaikan dia… Tdk pernah sekalipun saya meminta dia menceraikan istri pertama, bahkan saya berkali2 memintanya untuk kembali seutuhnya pd istri & putranya (1 orang)..tetapi dia menyakinkan saya, bahwa jika istri pertama tau…kami akan berpisah smtr & bgmn pun caranya dia akan kembali bersama saya… Lalu kebahagiaan itu terhempas november 2008 lalu, istri pertama tau dan saya dikatakan sbg lonte, pernikahan kami tdk sah dan sama dgn zinah…. Suami sempat bilang, kalaupun harus pilih pisah…dia pilih pisah dgn istri pertama meski kariernya harus hancur…. Bbrp hari kemudian, istri pertama memohon agar saya meninggalkan suaminya (yg juga suami saya…), saya bersedia…. Tetapi, entah knp…suami melalui telpon…dgn marah bilang bahwa hub kami berakhir…. Saya menuntut, untuk diceraikan dgn cara yg baik, krn kami menikah secara agama Islam…tetapi sudah 1 bulan, suami tetap diam, tanpa kabar… Sampai saat ini, saya msh mendoa’kan dia sbg istri…agar dibukakan mata hatinya untuk menceraikan saya dg cara yg baik, saya tdk ingin dia menjadi dzalim krn dia tdk memahami konsekuensi poligami utk bersikap adil…