Bulan dan Bintang (Dalam Sebuah Bilik di Wartel Nan Gelap)
Ξ 28 April 2007 | → | ∇ Cerita |
Bintang : Kamu sekarang pakai baju apa?
Bulan : Kaos oblong warna biru tua.
Bintang : Bawahannya?
Bulan : Celana selutut warna ungu.
Bintang : Dalamannya?
Bulan : Kenapa pertanyaanmu harus diteruskan sampai sedetil itu?
Bintang : Karena sebenarnya aku ingin bercinta denganmu saat ini.
Bulan : Dari dulu jawabanmu selalu itu. Jadi sebenarnya, kamu ingin mengenalku karena ingin berteman denganku, atau bercinta denganku?
Bintang : Awalnya hanya berteman, tapi entah kenapa makin lama aku makin menginginkanmu.
Bulan : Itu
Bintang : Tapi aku tidak bohong!
Bulan : Ya sudah.
Bintang : Jadi? Ayolah, bantu aku masturbasi sekarang.
Bulan : Tidak.
Bintang : Uhh… Ayolah. Punyaku sudah tegang sekali ini. Rasanya ingin masuk ke punyamu.
Bulan : Kamu tahu arti kata ‘tidak’ tidak sih?
Bintang : Uhh… Uhh… Sayyanghh, ahyyo bbanttu akkhuh…
Bulan : Coba katakan padaku, sebenarnya kamu bisa Bahasa Indonesia tidak sih? Aku harus menjelaskan kalau aku tidak mau pakai bahasa apa?
Bintang : Bbissha. Arrggghhhh … Tapi aku ingin melahapmu sampai habis saat ini. Kalau kau ada di dekatku, akan kubuat kau keenakan dan memintaBulanminta lagi padaku.
Bulan : Kalau kau masih saja meneruskan bahasan tentang ini, sebaiknya kamu tutup saja telponnya. Aku mau tidur.
(terdiam)
Bintang : Bener, kamu sayang aku?
Bulan : Kenapa sih, kamu selalu mempermasalahkan itu? Ngomong-ngomong, sudah masturbasi, ya?
Bintang : Sudah. Karena aku takut tidak diingini. Karena aku sudah terlalu banyak disakiti, dan sekarang aku mencari seseorang yang menyayangiku, menginginiku seutuhnya.
(terdiam)
Bulan : Aku sayang kamu. Aku juga menginginimu. Tapi tidak untuk saat ini.
Bintang : Kenapa? Apa lagi kekuranganku? Aku sudah kerja. Aku sudah punya rumah. Aku juga sudah punya kendaraan sendiri.
Bulan :
Bintang : Apa kekuranganku? Sebutkan, aku sudah tidak sabar.
Bulan : Satu, kamu tidak punya
Bintang : Kok bisa?
Bulan : Kenapa? Ini kekuranganmu yang kedua, agama kita berbada, kepercayaan yang kita anut tidak sama.
Bintang : Lalu kenapa?
Bulan : Ketiga, aku tahu kamu tidak akan pindah agama.
Bintang : Tidak seharusnya kita bicara mengenai ini.
Bulan : Maaf, tapi bagiku ini yang terpenting. Dan kalau toh, kamu mau pindah agama, aku tidak ingin kamu hanya sekedar pindah. Tapi juga menjalani itu semua dengan kerelaan dan kesungguhan. Dan jika seseorang meremehkan apa yang penting bagi pasangannya, yakinlah bahwa pasangan orang itu bukan aku. Karena aku takkan mau apa yang penting bagiku diremehkan pasanganku. Jika kehadiranku memang penting bagi hidupnya, maka segala yang penting bagiku akan penting juga baginya.
Bintang : Yah, kita lihat nanti sajalah. Sekarang kita jalani hubungan kita apa adanya saja.
Bulan : Kita lihat nanti sajalah. Sudah dulu, ya? Aku mau tidur.
(telpon ditutup)
on March 7th, 2008 at 6:52 pm
is there any one who knows any source about this subject in other languages?
on April 11th, 2008 at 1:11 pm
Well this is depressing. Stop writing like that, your posts are spoiling your reader’s mood. Boring.
on July 22nd, 2008 at 6:32 am
do you know any information about this in english?