Kegagalan yang Dapat Diperbaiki
Ξ 27 April 2007 | → | ∇ Cerita |
Pagi ini aku membuat puding yang sudah menjadi keahlianku, puding karamel. Tapi baru lapis pertama dituang, sepertinya menunjukkan tanda-tanda kegagalan. Satu lapis yang biasanya hanya memakan waktu sekitar 5-7 menit untuk matang, ini sudah 30 menit lebih, masih juga belum bisa memadat.
Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya gagal. Lebih dari setengah jam aku belum juga menemukan jawabannya. Masalahnya, aku sudah bisa membuat puding karamel ini sejak usiaku masih 7 tahun, dan tidak pernah gagal sama sekali. Kalau yang ini gagal kan aneh.
Aku lalu meminta bantuan ibu untuk memperbaiki adonan puding karamel yang telah kubuat. Ibu lalu membantuku memperbaiki adonan. Ternyata kesalahannya adalah terlalu banyak air. Ibu menambah adonan dengan tepung maizena.
Hasilnya setelah matang, puding jadi lebih kenyal dan warnanya lebih indah.
Kegagalan bukan untuk disesali. Meminta bantuan orang lain tidak ada salahnya kalau memang mentok ngga punya solusi untuk memperbaiki kegagalan yang sudah diciptakan sendiri.
Masalah seringan atu seberat apa pun, orang tua selalu punya solusinya. Jangan pernah ragu untuk menceritakan masalah pada beliau.
on May 23rd, 2007 at 9:39 am
yang normal tuh emang makan nasi pulen tapi kalo nasinya dah jadi bubur…yang gak usah bingung-bingung…tinggal tambah suwiran ayam, bawang goreng, n kerupuk. jadideh bubur ayam yang top bgt.
“kalo nasi dah terlanjur jadi bubur, tidak usah meributkan kenapa or siapa yang salah, cari cara aja gimana supaya tuh bubur jadi bubur ayam yang lezat”
PROBLEM? NO FEAR!
on June 10th, 2007 at 9:15 pm
Kegagalan dan kesedihan mungkin suatu ketika harus kita terima sebagai hal yang biasa saja dalam hidup ini seperti halnya siang dan malam.