Perut Lapar vs Bu Atun
Ξ 25 April 2007 | → | ∇ Cerita |
Saat itu aku sedang duduk di sebuah depot pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut. Sambil menunggu pesananku datang, aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling depot ini. Tatapanku terhenti pada seorang ibu yang menangis tanpa suara sambil membalas sms yang baru saja diterimanya. Tanpa ragu kudatangi ibu itu.
“Permisi, Ibu,†Ibu itu menengadahkan kepalanya melihatku. “Boleh saya menemani Ibu disini?,†tawarku sambil tersenyum. Ibu itu mengangguk pelan, tetap saja menangis.
“Maaf Bu, kalau Ibu tidak keberatan, Ibu bisa cerita pada saya mengenai apa yang membuat Ibu sedih,†aku mengelus punggung telapak tangan ibu itu. “Saya akan coba membantu semampu saya.â€
Ibu itu tetap diam. Pesananku datang. “Ibu tidak pesan makanan?â€
“Saya ini…,†ucapnya tiba-tiba. Kuletakkan sendokku dan kusingkirkan makananku dari hadapanku. Lalu cerita mengalir begitu saja dari bibirnya.
“Saya hanya seorang pembantu rumah tangga harian. Asal saya Ponorogo. Disini saya ngekos. Gaji saya kecil, Dik. Wong saya ini cuma tukang cuci dan setrika baju saja. Tapi anak saya nuakalnyaaaa… ndak ketulungan, Dik. Saya baru saja disms Paklik saya, katanya Yanto ditangkep polisi. Baru mencuri tv tetangga, dia jual, terus dibelikan minuman keras.
“Saya bingung, Dik. Dapat dari mana saya uang segitu besar untuk nebus Yanto? Wong gaji saya sebulan cuma cukup untuk bayar SPP-nya Yanto dan makan kami selama sebulan. Paklik manggil saya pulang Dik, katanya Yanto mau disidang. Saya ndak mau Yanto dipenjara, Dik,†cerita berhenti sebentar. Ibu itu mengelap ingusnya.
“Saya harus pulang dan nebus Yanto, Dik. Tapi saya ndak ada duit,†tangisnya makin menjadi.
Selera makanku hilang seketika. “Ibu masih mau bekerja jadi pembantu?â€
“Mau sekali, Dik. Wong saya bisanya ya cuma itu.â€
Aku lalu menawarinya bekerja di rumahku. Ibu itu, yang belakangan kuketahui namanya Atun, senang bukan kepalang dan berterima kasih sambil memelukku.
Kuajak dia ke rumahku dan memberinya kamar, lalu Bu Atun menata baju-baju yang dia ambil dari kos-kosannya. Setelah itu, kupinjami dia uang sebanyak yang dia butuhkan, kuantar dia ke terminal.
Dia berjanji akan pulang dalam 3 hari dan segera menghubungiku sesampainya dia di terminal ini lagi untuk kujemput.
Hatiku terasa lega bisa membantu Bu Atun. Belum sampai aku ke gerbang keluar terminal, perutku bernyanyi makin keras.
on June 19th, 2007 at 3:44 pm
hem.. dita.. lam kenal ya sebelumnya.
ide yang simple tapi cerita ini masih bisa digali lebih dalam. satu lagi yang aku sendiri juga blom pandai tata cara menulis. penempatan beberapa tanda baca sepertinya masih banyak yang salah.
on June 26th, 2007 at 10:17 pm
bagus…bagus…n realis banget cerita-ceritanya!!!